Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Etika Penggunaan Mesin Pencari di Internet Dalam Membuat Tugas Penulisan



Google, bing, yahoo search adalah beberapa mesin pencari yang populer. Google pada awal didirikan banyak diremehkan orang, "buat apa sebuah website yang berfungsi untuk mencari website". Pada saat itu website memang tidak sebanyak sekarang. Namun jika sekarang tidak ada mesin pencari bayangkan kita menghafal satu-persatu situs yang mau kita kunjungi.

Dalam era teknologi informasi seperti sekarang ini, membuat suatu karya semakin mudah, kita dapat mencari bahan referensi melalui internet. Dalam hitungan menit kita sudah mendapatkan banyak inspirasi melalui website pencarian. Tidak seperti zaman dahulu yang dimana kita harus berada di perpustakaan untuk membaca buku-buku yang kebanyakan berukuran tebal. Bahkan sekarang anak SD sudah banyak yang bisa menggunakan internet dan para guru SD juga sudah banyak yang memberikan tugas penulisan/ mencari artikel dari internet.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mencari sumber penulisan antara lain :

  1. Jangan melakukan plagiarisme dengan mengkopi tulisan secara keseluruhan dan mengganti nama penulis.
  2. Pergunakan tulisan yang didapat sebagai sumber inspirasi/ referensi, bukan sebagai bahan tulisan kita sepenuhnya
  3. Jika ingin mencantumkan beberapa kalimat yang berasal dari tulisan orang lain, hendaknya kita mencantumkan sumber tulisan berupa link beserta dengan nama penulis.
Jika saya mengetik "Etika Penggunaan Mesin Pencari di Internet Dalam Membuat Tugas Penulisan" di google, maka saya mendapatkan beberapa tulisan teman-teman saya. Sangat disayangkan bahwa beberapa mahasiswa gunadarma masih sering melakukan plagiarisme dengan mengkopi secara utuh tulisan orang lain. Saya berharap hal itu tidak akan terjadi lagi, dan mahasiswa dapat lebih kreatif lagi kedepannnya dalam membuat tulisan yang berkualitas.

Senin, 15 Oktober 2012

Pembinasaan Bahasa Indonesia di dalam negeri


Perkembangan teknologi dan pengetahuan yang semakin luas akhir-akhir ini mau tidak mau mempengaruhi kita dalam soal bahasa, khususnya bahasa Indonesia baku yang semakin terpengaruh oleh budaya asing. Bahkan terkadang frasa “bahasa Indonesia” akhir-akhir ini sering sekali disingkat-singkat, khususnya oleh kaum muda. Misalnya “dah ngerjain tugas BI gak?”. Memang agak sulit untuk menerapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah EYD ( ejaan yang disempurnakan).
                Bahasa adalah isyarat komunikasi yang terkadang bersifat dinamis. Jika kita lihat sejarah bahasa Indonesia pada zaman dahulu dimana huruf “oe”,”dj”,”j” diganti dengan “u”,”j” dan “y”.  Juga istilah “download” dari bahasa Inggris yang diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “ unduh” itu pun baru disahkan pada tahun 2001 seiring dengan perkembangan teknologi informasi.
                Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah perkembangan bahasa Indonesia menjadi lebih baik atau semakin tidak jelas arahnya.  Menurut pandangan saya Bahasa Indonesia semakin banyak disisipi oleh bahasa asing, yang dimana bahasa asing tersebut memang agak sulit atau agak janggal jika disebutkan dalam bahasa Indonesia. Misalkan menurut Inpres tahun 2001 tentang penggunaan komputer dengan aplikasi bahasa Indonesia: folder dalam bahasa Indonesia diartikan pelipat. Memang jika diartikan secara langsung kata “fold” yang berarti lipat dan “er”yang merupakan imbuhan untuk pelaku menyebabkan arti pelipat.  Atau hyperlink yang diartikan hipertaut. Agak aneh memang. Mungkin itu salah satu sebabnya orang jadi malas mengucapkan bahasa Indonesia yang benar sesuai arahan pemerintah. Namun kesamaran dalam penggunaan bahasa Indonesia tidak bisa disalahkan begitu saja, itu juga disebabkan pemaksaan penerjemahan dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia baku.
                Bagaimana selanjutnya langkah-langkah untuk memperbaiki hal tersebut? Harus dibiasakan kembali pengucapan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Anak-anak sedari dini harus dibiasakan mengucap bahasa Indonesia sesuai EYD. Saya sebenarnya agak miris juga melihat para pemimpin negeri ini yang malah memberi contoh yang kurang baik. Misalnya pada pidato kenegaraan, bapak Presiden malah banyak mencampur-adukan istilah bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Saya iri melihat presiden China misalnya yang sangat percaya diri berpidato dengan bahasa Mandarin. Ini sebaiknya yang juga dicontoh oleh pemimpin Negara. Pidato kenegaraan menjadi salah satu cara promosi yang efektif di dunia Internasional. Padahal oleh Negara lain bahasa Indonesia termasuk dalam bahasa penting di dunia karena dipakai oleh 10% lebih dari jumlah penduduk dunia. Bahkan di Negara tetangga seperti  Australia yang saya ketahui ada mata kuliah Bahasa Indonesia. Sudah seharusnya kita memberdayakan bahasa Indonesia tanpa mengurangi tingkat pengetahuan bahasa asing.